Seperti diuraikan Umi Farihah, peserta pelatihan asal madrasah yang bernaung di LP Maarif NU Jepara. Umi mempunyai kebiasaan menulis diary. Namun ia tidak percaya diri jika tulisannya dibaca orang lain. Problem lain dinyatakan Erni Apriliani, siswi SMK Az Zahra Mlonggo. “Bagaimana agar saat kita galau tulisan kita tetap menarik?” tanyanya sembari disambut tepuk tangan peserta.
| Siswa Madrasah Curhat Hambatan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online) |
Siswa Madrasah Curhat Hambatan Menulis
?Zamhuri, Manajer Yayasan Pembina UMK menyatakan, penulis harus percaya diri dengan karyanya. Jika tidak, akan mengalami stagnasi, mati ide. “Oleh karena itu penulis harus berlatih PD agar rasa groginya hilang,” paparnya. ?
Blog Pribadi Bang Roy Han
?Hal senada disampaikan Muhammadun Sanomae. Untuk menghilangkan rasa kurang percaya diri perlu dilatih. “Dikritik, dikomentari dan dihujat karya kita ndak apa-apa. Kita terima saja hal itu sebagai masukan untuk kebaikan karya kita selanjutnya,” jelasnya.
?
Blog Pribadi Bang Roy Han
Kepala Biro Suara Muria itu menambahkan, berkaitan dengan galau, seorang penulis harus pandai memisahkan urusan pribadinya dengan profesinya. “Meski galau karya tidak boleh diikutkan galau,” tegasnya.?
Hal itu disebutkan Muhammadun sama seperti penulis harus tetap menghargai narasumber walaupun idenya berbeda. “Penulis harus profesional dan proporsional,” imbuhnya.
?
Zamhuri, Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus menambahkan jika mendapat ide agar langsung ditulis di diary maupun di handphone. Lalu, ditulis dalam belum gagasan.
“Kita mau buat apa ide itu? Gagasan ilmiah popular apa ilmiah murni. Kerangka singkatnya meliputi pembuka, isi penutup atau pembuka, persoalan, analisis dan rekomendasi,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
Blog Pribadi Bang Roy Han Fragmen, Lomba Blog Pribadi Bang Roy Han